Ketika Anak lebih Bijak dari Orang Tuanya

- July 04, 2018
"Bu guru, boleh ngga aku minta tolong bilangin ke mamaku untuk tidak ngerokok didepanku", kata seorang murid kepada guru Bimbingan Konseling di sekolah sangat ternama.

Sebuah permintaan sederhana seorang anak kepada gurunya untuk disampaikan pada orang tuanyanya.  Guru yang berperan sebagai pengganti orang tua disekolah hanya dapat menampung semua permasalahan yang dirasakan anak.

Kemudian timbul sebuah pertanyaan, "Mengapa tidak kau sampaikan sendiri permintaan itu pada ibumu nak?"

"Sudah......bahkan sering sekali aku sampaikan permintaan itu, tapi ibuku tidak pernah peduli!", jawab si anak dengan luapan emosi.

Kian hari, semakin banyak dialog serupa yang kita dengar sebagai gambaran kenyataan tentang persoalan anak dan orang tuanya disekitar kita.

Pernyataan si anak bahkan menunjukkan betapa ia ternyata dapat bertindak lebih bijak dari orang tuanya sendiri.

Umumnya, orang tua sering malas atau bahkan tidak ingin mendengarkan pendapat anaknya. Bagi orang tua, pendapat anak hanya coletahan semata.

Banyak diantara kita, para orang tua yang merasa “lebih tua” sering merasa “lebih tau” dari anak, dan tidak pernah mencoba melihat, merenungkan apa makna dibalik pendapat anaknya tersebut.

Menjadi bijak bagi diri sendiri adalah baik. Menjadi bijak untuk anak-anak akan menjadi tauladan bagi mereka.

Mari menjadi orang tua yang berbeda. Orang tua yang mau meluangkan waktunya untuk mendengarkan, melihat dan merenungkan setiap celotehan anak dari sisi yang berbeda.

Ada kalanya kita belajar lebih banyak dari anak tentang "dunia" ini dan menemukan banyak "ilmu" dari mereka. Semoga kita orang tua semakin bijak karena menjadi pendengar yang baik untuk anak.
Advertisement


EmoticonEmoticon

 

Start typing and press Enter to search